My childhood friend
Tidak
terasa umurku sudah 5 tahun, yeah 1 tahun lagi aku akan masuk TK. Aku merasa
seperti ada berjuta kembang api di hati ku. meledak-ledak dan berhasil
membuatku selalu tersenyum. Aku selalu menanti hari dimana aku akan memakai
seragam dan bermain bersama teman-teman ku, saking tidak sabar nya aku selalu
berlari ke koridor depan rumah ku hanya untuk memperagakan saat aku akan
berangkat.
“mamah, ayo cepat nanti
telat” aku berteriak di depan pintu rumah ku
“Ria kamu cepet masuk
ga boleh teriak-teriak di luar” mamah ku mengerutkan dahi nya dan membawa ku
masuk ke dalam rumah.
Aku, sebenarnya sama
saja seperti anak lain tidak sabar menunggu hari yang akan menjadi sejarah
bahkan tertera di riwayat hidup jika melamar kerja nanti. Tapi ada yang selalu
menyebut ku aneh entah dari sisi mana mereka menyebutku seperti itu, aku hanya
merasa diriku ini biasa saja. Malah aku bisa mempunyai teman yang bisa di bilang
lebih tua dari ku, dia memang sudah berumur tapi aku senang bermain dengan nya
karena dia bisa selalu membuat ku tertawa.
***
Tepat
pada hari minggu tanggal 3 Maret 1998, aku pergi keluar rumah untuk bermain
tapi anehnya saat aku keluar untuk bermain teman-temanku malah melihat ku dengan
tatapan aneh dan mereka langsung bergegas masuk kedalam rumah masing-masing.
“aneh” batin ku
Aku hanya membiarkan
mereka dan aku mulai berlari menuju sebuah bangku di pojok dekat pohon besar
tidak jauh dari rumahku, ya untuk apa lagi aku kesana kalo bukan untuk bermain.
Di bangku itu sudah ada teman ku yang menanti, dia melambai-lambai kan tangan
nya ke arah ku tapi aku senang karena tingkahnya begitu aneh, kami bermain
kejar-kejaran, petak umpet dan paling seru kami bermain wong lari wong menang aneh memang, aku saja saat pertama mendengar
nama permain itu sempat bengong dan tidak berani mengeluarkan suara termaksud
suara nafasku. Dia hanya mengajak ku berlari dan kembali lagi ke tempat awal,
bisa di bilang sih sama seperti balapan, tapi aku tidak berani mengatakan
padanya bahwa permainan ini adalah balapan, karena aku takut dia marah, dia
paling tidak suka jika ada orang yang mengaturnya makanya aku selalu
mengeiyakan jika dia melontarkan sesuatau sebab jika dia sudah marah matanya
berubah menjadi merah, dan aku takut. Saat kami sedang asik bermain wong lari wong menang, mamah
memanggilku, dan seketika permainan pun berhenti.
“Ria kamu lagi ngapain
disini? Udah magrib bukan nya diem di rumah ini malah keluyuran, cepet pulang”
mamah menarik tangan ku dan membawaku pulang ke rumah.
Sementara temanku dia
pergi, ya dia memang tidak suka dengan mamah ku hanya karena mamah ku
pengganggu, dia selalu bilang begitu padaku. Aku hanya mengehela nafas kasar
dan menghentakan kaki ku selama berjalan menuju rumah.
***
Ke
esokan pagi nya aku merasa seperti tertimpa batuan besar di kepalaku, sakit dan
aku tidak bisa terlalu melihat jelas panganku buyar. Aku takut terjadi sesuatu
dan aku pun menangis aku memanggil mamah ku untuk cepat datang menghampiriku
karena rasanya sakit sekali. Akhirnya tak lama kemudian mamah ku datang dengan
wajah yang cemas, ya aku bisa melihatnya jelas wajahnya sangat cemas. Mamahku
langsung menggendong tubuhku dan merebahkan tubuh ku di atas kasur, aku melihat
sekeliling kamar dan aku menemukan teman ku. dia datang ternyata menengokku,
dia bialng padaku untuk jangan takut karena aku tidak apa-apa lalu dia tersenyum padaku dan aku berhasil di
buat tertawa oleh nya, aku tertawa karena melihat wajahnya yang selalu lucu dan
sedikit aneh tapi aku menyukainya. Saat aku sedang tertawa ibuku datang dan
menatapku heran wajahnya seperti kelihatan sedikit ketakutan dan cemas. Aku
ingin bertanya kenapa, tapi rasanya mulutku seperti ada yang membekam dan aku
merasa sangat lemas. Dan akhirnya akupun tertidur.
“Ria sini kita main bareng lagi kalo kamu
disini ga akan ada yang ganggu kaya mamah kamu kita bisa main sepuasnya jadi
udah kamu disini aja Ria”
Aku hanya tersenyum
menanggapi kalimat yang terlontar dari teman ku itu. Lalu kami pun mulai
bermain kami kembali bermain wong lari
wong menang, dia sangat menyukai permainan ini aku pun dibawanya berlari
kesana kemari sampai pada akhirnya kita berhenti untuk istirahat. Dia melihatku
lagi dan lagi-lagi dia tersenyum dan kembali mengajakku untuk tetap disini bersamanya,
aku bingung harus menjawab apa, karena
aku kan harus masuk TK sementara disini tidak ada TK mamah juga pasti akan
marah jika aku tetap disini. Akhirnya akupun menggelengkan kepalaku tanda aku
tidak bisa tinggal disini bersamanya, tapi seketika juga wajahnya berubah.
Wajahnya tidak selucu biasanya ini menakutkan matanya melotot dan berubah
menjadi warna merah, lalu wajahnya mendadak berubah menjadi sangat menakutkan
dia melontarkan kata-kata yang tidak aku mengerti tapi logatnya seperti
orang jawa. Aku takut, aku menangis
sejadi-jadi nya dan mulai memanggil mamah ku aku takut. Sampai akhirnya ada
suara lembut yang memanggil namaku.
“Ria… Ria bangung Ria
bangung nak”
Aku pun membuka mataku
dan mendapati mamah, papah juga seorang kake yang tidak aku kenal sedang
mengelilingiku. Aku bangun dari pembaringanku dan langsung memeluk mamahku yang
pada saat itu duduk di sebelah ku. aku masih menangis dan masih terbayang akan
wajahnya yang sangat menakutkan. Lalu mamah memberiku segelas air putih aku pun
menurut dan meminum nya sampai habis.
***
Tanggal
21 maret 1998, aku dan keluargaku pindah rumah. Mamah hanya menuntunku untuk
membereskan barang-barangku dan berkata,
“Ria kamu jangan suka
main pada saat magrib lagi pamali ! ya, di rumah yang baru kamu ga boleh kaya
gitu”
Aku hanya menggangguk
tanda mengerti pada mamah ku. setelah semua nya beres kami pun segera masuk
kedalam mobil dan siap menuju rumah yang baru. Aku duduk di jok tengah
sementara mamah dan papahku duduk di depan. Saat mobil benar-benar akan
meninggalkan rumah lama ku aku melihat ke belakang sepertinya aku tidak ingin
meninggalkan rumahku ini,lalu saat aku sedang menatap rumah ku, betapa kagetnya
aku karena aku mendapati sosok teman ku itu sedang melambai ke arahku sambil
menyeringai dengan menunjukan wajahnya yang sangat menakutkan.
Komentar
Posting Komentar