PARADOKS ...
Bandung, 30 Agustus
2018
Satu
lagi kisah klasik yang coba aku ceritakan pada kesepuluh jariku, satu kisah
pilu yang awalnya indah tetapi berakhir dengan luka. Aku seorang wanita yang
terkadang hanya bisa merasakan segala sesuatunya tanpa berpikir terlebih
dahulu. Rasa yang rumit yang muncul di kala aku sedang sendu, rasa ini ada
ketika dia mengulurkan tangan yang penuh dengan darah penyesalan nya padaku. Dia
menggenggam erat tangan ku dan seolah berkata bahwa dialah pahlawanku.
Dia
berhasil membawa aku ke puncak asmara yang dimana di atas puncak itu banyak
sekali aku menemukan “godaan” yang datang terus menerus bagaikan angin yang tak
pernah bosan mengusap wajahku. Dia hanya terus menggenggam tanganku seperti
enggan untuk di lepaskan, dia memelukku erat di kala ada ranting atau batang
penghalang lainnya yang mencoba menyakiti ku, oh betapa luluh nya aku melihat
dan mendapatkan perlakuan seperti itu.
Sampai
tiba dimana aku mulai menunjukan sisi hitam diriku yang mungkin membuat dia
takut dan berlari terkencing-kecing menjauhi diriku. Jauh semakin jauh hingga
aku lupa bagaimana bentuk wajah dan indah hidungnya. Ingin aku menarik
tangannya itu kembali kedalam pelukanku yang mulai terasa hampa dan dingin
karena kesepian. Jujur aku takut di tinggal sendirian di puncak asmara ini, dia
hanya berkata bahwa dia tidak kuat dan takut untuk terus bersama dengan ku.
Bahkan
satu ciuman atau pelukan terakhir pun tak dia berikan padaku, padahal aku
sedang ingin memeluknya merasakan kehangatan tubuhnya untuk yang terakhir kali
nya. Seperti kata om Chairil Anwar aku ini seperti laron yang mendekati ajalku
sendiri dengan cara membakar diri ini mendekati cahaya lampu yang sekilas
begitu indah. Sama seperti cintanya yang dia tawarkan padaku dengan rasa
percaya diri dan dikemas dengan “bungkusan” yang begitu indah sampai aku silau.
Aku
rapuh sayap hatiku patah dan terbang menjauh meninggalkan bekas luka yang dalam
sekali sampai aku bingung bagaimana cara menyembuhkannya, aku ingin memaksanya
kembali masuk ke dalam hatiku, apa masih bisa? Sepertinya tidak, sudah cukup
baginya tau siapa aku, siapa diriku yang sebenarnya. Sedandainya dia tahu luka
ini menganga begitu besarnya seperti minta di jait atau di masukan suatu
stimulus cinta ke dalamnya.
Menangis?
Jangan tanya setiap detik aku menangis sampai kering dan enggan untuk keluar
lagi, pun hatiku terbawa olehmu sampai susah untuk mengambilnya. Aku merangkak
mencari topangan tapi sama saja semuanya rapuh, aku mencoba bangkit dan
menunjukan topeng riangku pada semua orang tapi rasanya bagai ditusuk duri, Sakit
memang tapi mau bagimana lagi aku harus hadapi itu semua.
Untuk
dirimu yang selalu ku sayang, jika kamu hanya menginginkanku dalam keadaan
bahagia saja mengapa kau masuk dan memporak porandakan hati ini. Sehingga aku
sulit menyusunnya kembali dan memulai semuanya dari nol. Hati, cinta dan semua
rasa yang ada pada diriku sudah kau bawa, mungkin tak sengaja terbawa saat kau
pergi meninggalkan aku. Tolong kembalikan itu semua tolong biarkan aku
menghirup kembali rasa itu semua.
Tapi
tidak apa-apa aku ini wanita kuat yang bisa kembali bangkit dan mengambil semua
rasa itu darimu, biarkan aku menikmati saat-saat pilu ini menikmati rasa di
tusuk oleh ribuan bahkan ratusan jarum yang masuk ke dalam setiap inci denyut
nadiku. Satu kata terkahir yang mungkin sudah tidak kamu butuhkan bahwa aku
menyangimu lebih dari apapun. Bukan perpisahan yang aku sesali tapi
pertemuanlah yang aku sesalkan.***
Komentar
Posting Komentar