Orlin Wardana part 1
Namaku
orlin wardana, aku adalah seorang mahasiswi semester akhir di salah satu
universitas swasta di Bandung. Sebenarnya kisah ini di mulai saat aku masih ada
di semester 2, kisah yang merupakan awal dari kesengsaraan hatiku karena dia.
Ya dia, dia yang sudah curi hatiku, dia yang sudah pukul telak hati ku hingga
mati rasa. Karena dia aku menulis kisah ini.
Bandung,
25 Februari 2013
“happy
b’day orlinnn’
Hari
ini adalah hari dimana aku hanya mendengar suara riuh dan ucapan selamat ulang
tahun dari sahabat sahabatku, hari dimana aku genap berusia 20 tahun. Well usia dimana aku bisa menjadi
seorang wanita dewasa, karena katanya usia 20 tahun adalah usia dimana kita
bisa melakukan segala hal yang kita suka. Ya semoga saja aku bisa melakukan
segala hal yang aku suka dan yang aku cinta.
“hahaha
makasih, makasih loh ya kalian udah nyempetin ngasih kejutan segala buat aku. I
love you guys’ ucapku sambil memeluk erat kelima sahabatku. Aku senang sekali
hari ini, saking senangnya aku bahkan sampai lupa bahwa hari ini juga aku mulai
merana karena cinta. Saat itu Syela, salah satu sahabatku datang bersama
seorang teman lelaki nya yang memang dia rencanakan untuk dikenalkan denganku.
“Hai
selamat ulang tahun ya, aku Doni” sambil tersenyum dan mengulurkan tangan
lembutnya padaku.
“Hai,
makasih ya udah datang aku Orlin” balasku dan tangan kami pun saling bertautan
Oh
Doni, pikirku dalam hati dia orangnya ganteng dan sepertinya laki-laki dewasa
dan baik hati. Kami hanya sesekali curi pandang dan saling bertatapan walaupun
hanya beberapa detik, tapi entah mengapa tatapan sednu mata nya itu berhasil
mengikat hatiku dan ingin mengenalnya lebih jauh lagi.
Tak
terasa waktu sudah menunjukan pukul 2 malam, ah.. aku tidak ingin pulang aku
masih ingin disini bersama doni yang hanya duduk manis di pojokan sambil memegang
segelas wine dan sesekali melihat kearahku. Lagi, aku dibuatnya teler akan
tatapan sendunya itu. Ohh doni namamu indah dan aku rasa aku mulai jatuh hati
padamu. Malam itu aku berpamitan kepada kelima sahabatku dan juga Doni, awalnya
Syela menyuruh Doni mengatarku pulang, tetapi aku menolak karena bagaimana
jadinya jika hanya berduaan saja di jalan dengan Doni aku takut tak bisa mengendalikan
nafsuku untuk mencium Doni.
“gak
usah aku pulang sendiri aja, lagian Doni kan jauh rumahnya kalo nganter aku dulu
nannti dia nyampe rumah jam berapa”. Jawabku dengan nada sedikit terbata-bata.
“yahh
padahal Doni udah nyiapin kado special ni buatmu lin” saut Karin sahabatku yang
jangkung dan bermata tajam.
“hehehe
gak usah deh aku sedniri aja” ucapku
“bener
kamu gak apa-apa pulang sendiri?” doni mulai menayakan hal yang sulit aku jawab
“iya
don gak apa-apa aku pulang sendiri aja, kamu hati-hati di jalan ya” kataku sambil
berjalan ke luar café tempat kami bertemu.
Aku
pun melambaikan tanganku kepala kelima sahabatku yang rencananya mereka akan
melanjutkan clubbing dan juga kepada Doni lelaki manis dan lembut yang aku
temui hari ini.
Doni,
namamu indah bagikan alunan istrumen musik Jhon Coltrane yang mendayu lembut
melakukan penetrasi kedalam telingaku. Besok aku ingin kembali bertemu denganmu
dan kembali saling melempar senyum dan bertukar pandangan. Doni masa aku sudah
rindu lagi padamu, pikirku sambal senyum sendiri dan menunggu taksi sembari berdiri
di pinggir jalan Cihampelas
“ah
malam ini begitu dingin tapi hatiku rasanya hangat” gumamku dalam hati
***
Keesokan
paginya Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki yang seperti kusut dan
bingung. Aku mencoba membuka kedua mataku dan mulai menyesesuaikan kedua retina
ku dengan cahaya mentari yang langsung menodong lembut wajahku.
“siapa
ya?” pikirku
Pagi-pagi
sekali sudah membuat lantai rumahku bising dengan hentakan tak berirama
kakinya. Aku menyibakan selimut hello kitty dan beranjak dari Kasur hanya untuk
melihat dan memastikan siapa kaki yang sudah kurang ajar membangunkan aku. Saat
aku mulai membuka pintu betapa kagetnya aku karena melihat seisi rumah sudah
acak-acakan, semua perabot rumah kursi, vas bunga bahkan foto keluargaku pun
semuanya tergeletak dilantai.
“apa
yang terjadi’ pikirku panik
Tanpa
pikir panjang langsung aku berlari ke lantai satu dan lagi aku di buat kaget
oleh keadaan pagi ini karena aku menemukan mami ku sedang menangis tersungkur
di lantai yang dingin, segera aku menghampiri mami yang sudah kusut dan tatapan
matanya yang kosong dan hanya bisa menangis. Aku memeluk mami dan mulai
menanyakan apa yang terjadi.
“Mam
kenapa? Apa yang terjadi? Ada apa? Mami kenapa?” tanyaku dengan nada suara
lirih
Mami
hanya diam dan semakin menangis. Ya tuhan ada apa dengan mami ada apa dengan keluargaku.
Papi kemana, kenapa papi hanya meninggalkan mami yang sedang menangis ini
sendirian tanpa di peluk bahkan tanpa diberi rasa nyaman untuk meredakan
tangisannya. Apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya bisa menerka-nerka dan
mulai terdiam karena keadaan yang seolah mencekik ku sehingga aku sulit untuk bernafas.
**
To
be continued …
***
Komentar
Posting Komentar